Monday, July 7, 2014

Logika Algoritma adalah dasar dari semua Pemrograman



     Seperti judulnya yah kawand di sini saya akan membahas tentang Logika Algoritma, banyak yang dari kita sangat menyepelekan hal semacam ini, mentang-mentang merasa bisa dan ngerasa jago program, mereka.. yang masih pemula seperti yah saya ini.. hehe.. jadi ngaku deh tuh.. :) merasa pembelajaran Logika Algoritma itu tidaklah penting. Padahal dasar dari pemrograman yah Logika Algoritma.

Oleh sebab itu kenapa saya menulis artikel ini, karena saya sendiri belajar ulang tentang pemrograman. Singkat cerita, saya sangat menyukai web design seperti CSS, Javascript, Jquery PHP dan lain sebagainya, akan tetapi Logika Algoritma saya masih sangatlah bodoh atau masih kurang memahaminya. Makanya saya kurang mendalami pembelajaran Logika Algoritma, tapi ternyata begitu saya paham.. pantas saja kenapa waktu di kampus dulu kurikulum pertama saya belajar Logika Algoritma dan bahasa C++. itu karena kedua pembahasan tersebut adalah dasar bagaimana kita supaya bisa mencapai, mengerti dan mahir dalam dunia Pemrograman.

Karena Logika Algoritma merupakan struktur atau rangka dari program itu sendiri, Logika Algoritmaadalah sekumpulan langkah-langkah yang sistematis dan terbatas yang dibuat untuk menyelesaikan suatu masalah. Logika Algoritma dalam pengertian modern mempunyai kemiripan dengan istilah resep, proses, metode, prosedur. Dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari kita juga menjalankan algoritma. Seperti mengikuti aturan resep suatu masakan atau menghitung matematika dengan menggunakan rumus, dsb.

Sebagai contoh Logika Algoritma dalam kehidupan sehari-hari :
1. Sebuah prosedur ketika akan mengirimkan surat kepada teman:


  • Tulis surat pada secarik kertas surat
  • Ambil sampul surat atau amplop
  • Masukkan surat kedalam amplop
  • Tutup amplop surat dengan lem perekat
  • Tulis alamat surat yang dituju, jika tidak ingat, lebih dahulu ambil buku alamat & cari alamat yang dituju, lalu tulis alamat tersebut pada amplop surat
  • Tempelkan perangko pada amplop surat
  • Bawa surat kekantor Pos untuk diserahkan pada pegawai Pos atau menuju ke bis surat untuk memasukkan surat ke dalam kotak/bis surat


2. Mengitung luas segitiga:

  • Masukkan nilai Alas
  • Masukkan nilai Tinggi>
  • Hitung Luas (Alas * Tinggi)/2
  • Dapat Hasil

Gimana sekarang sudah mengertikan apa itu Algoritma..??
Saya sendiri juga masih belajar qo.. hehe.. :)

Logika Algoritma mempunyai tiga format penulisan yaitu :

1. Deskriptif
Logika Algoritma bertipe Deskriptif maksudnya adalah logika algoritma yang ditulis dengan bahasa manusia sehari-hari (misalnya Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris). Setiap Langkahnya ditulis dalam satu kalimat atau lebih. Tidak ada aturan untuk penulisan algoritma bertipe Deskriptif ini. Semua kalimat ditulis dengan sistematis, jelas, terbatas dan berurutan.

Contoh :
Logika Algoritma menghitung_luas_segitiga

  • Untuk menghitung Luas Segitiga pertama Masukan nilai alas
  • Kemudian masukan nilai tinggi
  • Kemudian hitung dengan menggunakan rumus Luas = Alas * Tinggi / 2
  • Cetak Luas

2. Flow Chart
        Logika Algoritma bertipe Flow Chart maksudnya adalah logika algoritma yang ditulis dalam bentuk diagram-diagram dengan anak panah sebagai penunjuk urutan langkah algoritmanya. Didalam Diagram terdapat Simbol-simbol yang mempunyai makna atau arti tersendiri. Anda bisa mencari Arti2 dari simbol2 tersebut di google.

3. Pseudocode
         Logika Algoritma bertipe Pseudocode maksudnya adalah tiruan atau imitasi dari kode bahasa pemograman. Pada dasarnya, pseudocode merupakan suatu bahasa yang memungkinkan programer untuk berfikir terhadap permasalahan yang harus dipecahkan tanpa harus memikirkan syntax dari bahasa pemograman yang tertentu. Jadi pseudocode digunakan untuk menganmbarkan logika urut-urutan dari perogram tanpa memandang bagaimana bahasa pemorogramannya.

Contoh:
Algoritma menghitung_luas_segitiga
deklarasi:
luas,alas,tinggi : integer
deskripsi
read (alas)
read (tinggi)
luas ← alas * tinggi / 2
write (luas)

Kalau Sudah jadi Logika Algoritmanya ya tinggal di translate ke Bahasa Pemrograman Begitu kawand, Gimana sudah mengertikan..?

Jadi dengan mengetahui Logika Algoritma akan memudahkan kita untuk menulis kode program agar kode program tersusun secara sistematis, efektif, tidak ketukar-tukar, dan yang pastinya tidak membingungkan kita walaupun kode programnya panjang. Dan dengan mempelajari Logika Algoritma akan memudahkan kita dalam mempelajari Bahasa Pemrograman apapun.

Singkat cerita yah memang seperti itu kawand, sooo mari kita memperdalam lagi ilmu kita tentang Logika Algoritma, supaya kita dapat menjadi Programer hebat, handal dan pastinya dapat terus berkarya.. hehe..
See you di artikel selanjutnya.. ;)

Wednesday, January 22, 2014

Proses Pengelasan Pada Rangka Gerinda Rel MP-12

BAB  I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
            Sejalan dengan perkembangan teknologi di abad ini, janganlah hanya hitung tahun, dalam tiap bulanpun sudah banyak perkembangan teknologi.
            Untuk menjalankan teknologi tersebut dibutuhkan sumber daya manusia yang terampil dan kedisiplinan yang tinggi agar terwujud perkembangan teknologi yang berguna bagi masyarakat. Dunia pendidikan sebagai salah satu sumber daya manusia yang terdidik, di tuntut untuk slalu meningkatkan kualitas dan kuantitas para lulusannya.
            Dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah berhasil ditemukan, memberikan dampak yang jelas pada tatanan kehidupan masyarakat secara luas. Dimana untuk dituntut mengembangkan suatu hasil pada pengerjaan logam dengan menggunakan suatu proses peoduksi yang baik.
            Disamping itu juga perlu kita ketahui bahwa dalam proses ini di perlukan suatu keterampilan yang baik dalam pengoprasian Mesin – mesin perkakas, karena kebanyakan dalam proses pembuatan suatu produk dengan menggunakan mesin – mesin perkakas dibutuhkan ketelitian yang tinggi dan pengalaman dilapangan. Untuk itu sebagai seorang teknik mesin perlu mengetahui dan memahami bagaimana cara proses pembuatan dan penyambungan suatu produk, untuk memperoleh suatu keberhasilan perusahaan terutama dalam proses penyambungan pada perancangan suatu produk itu sendiri. Seperti pada pembuatan gerindra rel Mp-12.
            Gerinda rel Mp-12 ini berfungsi untuk menggerinda atau meratakan sambungan hasil pengelasan pada rel supaya lintasan rel tidak bergelombang.
Gerinda rel adalah salah satu alat yang digunakan oleh PT. Kereta Api Indonesia sebagai alat bantu dalam pemelihaaan atau service rel kereta api pada jalur lintas.
            Berdasarkan hal tersebut maka penulis mengambil judul pada kerja praktek ini :
PROSES PENGELASAN PADA RANGKA GERINDA REL MP-12
DI PT. KERETA API INDONEISA (PERSERO) ”

            Untuk perkembangan perusahaan dan oprasional perusahaan tergantung pada latar belakang, diadakannya kerja praktek ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peningkatan kegiatan dari jenis produk pada proses produksi.
1.2       Maksud dan Tujuan
         Kerja praktek adalah salah satu alternatif dalam menerapkan pelajaran yang kita ikuti selama di bangku kuliah juga merupakan suatu hal yang sangat penting di lakukan para mahasiswa, terutama setelah menyalasaikan studinya.
           Dengan melakukan kerja praktek ini mahasiswa dapat melakukan kerja lapangan secara langsung dan di harapkan para mahasiswa dapat belajar dari pengalaman bagaimana menyeleaikan pembuatan suatu produk dalam hal penyambungan produk itu sendiri.
        Maksud kerja praktek di PT. Kereta Api Indonesia ini, penulis memfokuskan bagaimana menyelesaikan pembuatan suatu produk dengan mesin las. Dimana dari proses penyambungan ini penulis mencoba untuk dapat memberi sedikit sumbangan pemikiran dalam pengerjaannya dimana perusahaan tersebut mendukung dalam penyelesaiannya. Disamping itu kerja praktek ini bertujuan untuk mendapatkan data dan masukan sebagai bahan untuk dapat mengetahui sampai sejauh mana hubungan antara teori – teori yang di peroleh di bangku kuliah dengan kondisi nyata di suatu perusahan.
Tujuan umum kerja praktek adalah sebagai berikut :
a.       Menambah wawasan bagi para mahasiswa di dalam mengaplikasikan ilmu– ilmu pengetahuan yang di peroleh di bangku kuliah ke dalam suatu dunia kerja.
b.      Mengetahui bagaimana cara penyambungan suatu produk untuk menghasilkan produk yang baik.
c.       Mengatahui cara kerja mesin las terutama mesin las SMAW serta kecepatan dalam pengelasannya.
1.3       Identifikasi Masalah
            Untuk mencapai suatu produk yang sesuai dengan yang di inginkan, maka dalam proses perencanaan (Manufacturing Engineering) banyak sekali faktor dan masalah yang harus di tinjau antara lain :
a.       Membuat urutan proses
b.      Menentukan mesin las dan jenis tool
c.       Analisa teknik pengelasan, penggunaan elektroda, dan
d.      Analisa kecepatan pengelasan
1.4       Batasan Masalah
            Dalam pembuatan Gerinda rel terdapat banyak pengerjaan, karena bagian– bagian produk dibuat dengan bantuan beberapa mesin – mesin perkakas diantaranya :
a.       Mesin gergaji
b.      Mesin bubut
c.       Mesin bor
d.      Mesin las
e.       Mesin gerinda tangan
Disini penulis memfokuskan dengan membatasi pengerjaan pada mesin las, karena hanya dalam proses penyambungan rangkanya.
1.5       Lokasi dan Waktu Kerja Praktek
            Lamanya kerja praktek yang penulis lakukan menyesuaikan waktu yang ada yaitu sekitar 2 bulan dari tanggal 10 juni – 10 juli 2013. Adapun lokasi penelitian yang bersifat studi literatur dilakukan di perpustakaan kampus Unjani Bandung dan bersifat langsung di rencanakan di Balai Yasa Jembatan PT. Kereta Api Indonesia, Jl. Kiara condong bandung.

1.6       Metodologi Penelitian
            Cara yang digunakan untuk membuat laporan ini, dilakukan dengan menggunakan penelitian deskriptif, dimana penelitian ditujukan langsung kepada permasalahan dengan cara :
1.      Observasi Langsung
Yaitu melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian yang sedang dikerjakan di lapangan dan melakukan pencatatan guna memperoleh data yang diperlukan.
2.      Wawancara
Yaitu dengan melakukan tanya jawab dengan operator, pembimbing dan divisi perencanaan.
3.      Study Literatur
Yaitu dengan mempelajari literatur yang relevan dengan persoalan yang akan dibatasi guna menunjang kerja praktek serta digunakan untuk pegangan secara teoritis dalam membahas dan menganalisa masalah yang dihadapi.




1.7       Sistematika Penulisan
BAB I             PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, maksud dan tujuan, identifikasi masalah, pembatasan masalah, lokasi dan waktu, metodologi penelitian kerja praktek.
BAB II            LANDASAN TEORI
Berisi tentang teori mesin las, perlengkapan mesin las, jenis – jenis mesin las dan arus listrik, pekerjaan mesin las, dan perawatan mesin las.
BAB III          TAHAPAN KERJA PRAKTIK
Isi dari bab ini menjelaskan tentang tahapan kerja praktik serta terdiri dari identifikasi masalah.
BAB IV          PEMBAHASAN
Berisi tentang pembahasan proses pengelasan dan penjelasan proses hasil pengelasan pada pembuatan gerinda rel MP-12.
BAB V            KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini memberikan kesimpulan dari bahasan yang diambil yang berisi jawaban atas tujuan yang telah didapat selama melakukan kerja praktek  di Balai Yasa Jembatan  PT. Kereta Api Indonesia dan berisikan saran-saran agar penulis selanjutnya dapat menyempurnakan laporan yang telah dibuat.

Wednesday, January 8, 2014

Pengelasan MIG & TIG

TEKNIK MANUFAKTUR 3
LAPORAN PERSENTASI








Oleh     :
Gerson Kermite       21131010
Jeni Andria            2113101045
Bangun Setyo. N     21131010


JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
BANDUNG


PENDAHULUAN
A.    Las Listrik TIG
Pengelasan ini pertama kali ditemukan di USA (1940), berawal dari pengelasan paduan untuk bodi pesawat terbang.
Prinsip : Panas dari busur terjadi diantara elektrode tungsten dan logam induk akan meleburkan logam pengisi ke logam induk di mana busurnya dilindungi oleh gas mulia (Ar atau He).
Las listrik TIG (Tungsten Inert Gas = Tungsten Gas Mulia) menggunakan elektroda wolfram yang bukan merupakan bahan tambah. Busur listrik yang terjadi antara ujung elektroda wolfram dan bahan dasar merupakan sumber panas, untuk pengelasan. Titik cair elektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410° C, sehingga tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik. Tangkai listrik dilengkapi dengan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang melindungi daerah las dari luar pada saat pengelasan. Sebagian bahan tambah dipakai elektroda tampa selaput yang digerakkan dan didekatkan ke busur yang terjadi antara elektroda wolfram dengan bahan dasar. Sebagi gas pelindung dipakai gas inert seperti argon, helium atau campuran dari kedua gas tersebut yang pemakainnya tergantung dari jenis logam yang akan dilas.
·         Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengn air yang bersirkulasi.
Pembakar las TIG terdiri dari :
1) Penyedia arus
2) Pengembali air pendingi,
3) Penyedia air pendingin,
4) Penyedia gas argon,
5) Lubang gas argon ke luar,
6) Pencekam elektroda,
7) Moncong keramik atau logam,
8) Elektroda tungsten,
9) Semburan gas pelindung.
Keuntungan : Digunakan untuk Alloy Steel, Stainless Steel maupun paduan Non Ferrous: Ni, Cu, Al (Air Craft). Disamping itu mutu las bermutu tinggi, hasil las padat, bebas dari porositas dan dapat untuk mengelas berbagai posisi dan ketebalan.

Keuntungan
Proses GTAW menghasilkan pengelasan bermutu tinggi pada bahan-bahan ferrous dan non ferrous. Dengan teknik pengelasan yang tepat, semua pengotor yang berasal dari atmosfir dapat dihilangkan. Keuntungan utama dari proses ini yaitu, bisa digunakan untuk membuat root pass bermutu tinggi dari arah satu sisi pada berbagai jenis bahan. Oleh karena itu GTAW digunakan secara luas pada pengelasan pipa, dengan batasan arus mulai dari 5 hingga 300 amp, menghasilkan kemampuan lebih besar untuk mengatasi masalah pada posisi sambungan yang berubah-ubah seperti celah akar. Sebagai contoh, pada pipa tipis (dibawah 0,20 inci) dan logam-logam lembaran, arus bisa diatur cukup rendah sehingga pengendalian penetrasi dan pencegahan terjadinya terbakar tembus (burnt through) lebih mudah dari pada pengerjaan dengan proses menggunakan elektroda terbungkus. Kecepatan gerak yang lebih rendah dibandingkan dengan SMAW akan memudahkan pengamatan sehingga lebih mudah dalam mengendalikan logam las selama pengisian dan penyatuan.
Kelemahan.
Kelemahan utama proses las GTAW yaitu laju pengisian lebih rendah dibandingkan dengan proses las lain umpamanya SMAW. Disamping itu, GTAW butuh kontrol kelurusan sambungan yang lebih ketat, untuk menghasilkan pengelasan bermutu tinggi pada pengelasan dari arah satu sisi. GTAW juga butuh kebersihan sambungan yang lebih baik untuk menghilangkan minyak, grease, karat,dan kotoran-kotoran lain agar terhindar dari porosity dan cacat-cacat las lain.
GTAW harus dilindungi secara berhati-hati dari kecepatan udara di atas 5 mph untuk mempertahankan perlindungan inert gas di atas kawah las.

B.     Las Listrik MIG/GMAW
GMAW (gas metal arc welding) mulai dikenalkan di dunia industry pada tahun 1940-an. Di awal tahun 1950 yang diperkarsai oleh Lyubavshkii and Novoshilov, melakukan pengembangan GMAW dengan menggunakan diameter elektroda yang lebih besar dan gas pelindung yang digunakan adalah karbon dioksida CO2.  Pengembangan ini menghasilkan percikan elektroda yang tinggi,dan panas pada benda kerja yang sedang. Di akhir tahun1950 terjadi perkembangan dibidang teknologi power source, dan perkembangan diameter elektroda yang digunakan semakin kecil 0.035" - 0.062" (0.9 - 1.6 mm).  Perkembangannya dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, dengan kemajuan teknologi saat ini GMAW dapat diaplikasikan pada Proses Pengelasan dengan Sistem Otomasi (robot).
GMAW  (Gas Metal Arc Welding) merupakan proses penyambungan dua buah logam atau lebih yang sejenis dengan menggunakan bahan tambah yang berupa kawat gulungan dan gas pelindung melalui proses pencairan. Gas pelindung dalam proses pengelasan ini berfungsi sebagai pelindung dari proses oksidasi, yaitu pengaruh udara luar yang dapat mempengaruhi kualitas las. Gas yang digunakan dalam proses pengelasan ini dapat menggunakan gas argon, helium, argon+helium dsb. Penggunaan gas juga dapat mempengaruhi kualitas la itu sendiri.
Keuntungan
Proses pengelasan GMAW dapat dikerjakan secara semi-otomatis atau otomatis. Asap dan percikan las pada GMAW hubungan singkat lebih sedikit dibandingkan dengan SMAW, juga tidak ada slag yang harus dibersihkan setelah pengelasan selesai. Kecepatan pengelasan dan laju pengisian sama atau bisa lebih besar dari pada SMAW. Larutan logam las umumnya lebih rendah karena penetrasi GMAW lebih dangkal. Dengan panas masukan rendah dan penetrasi yang dangkal, logam-logam tipis lebih mudah disambung dan sambungan yang memiliki celah root lebih lebar akan lebih mudah dilas. Pada fabrikasi pipa-pipa di bengkel, root pass bermutu tinggi dapat dikerjakan lebih cepat pada berbagai posisi dan pada umumnya dengan biaya lebih rendah.
GMAW spray transfer dan globular transfer mempunyai kawah las yang lebih mudah dilihat, sama halnya dengan las busur teknik hubungan singkat (short circuiting arc) tetapi tanpa slag. Karena tidak ada flux dan relatif sedikit jumlah deoxidizer yang diberikan pada kawat, lebih sedikit pekerjaan membersihkan yang diperlukan setelah pengelasan selesai. Keseragaman panjang busur dipertahankan dengan cara membuat sumber listrik memiliki tegangan konstan. Proses las GMAW mempunyai laju pengisian lebih besar pada pengelasan paduan-paduan ferrous dan non-ferrous. Proses ini cocok dipergunakan pada las kampuh dan pengelasan untuk membuat lapisan anti karat pada stainless steel, nickel based alloys dan paduan-paduan tembaga seperti aluminum bronze.

Kelemahan.
Peralatan las GMAW lebih mahal, dan lebih rumit dalam pemasangan dan perawatan, dibandingkan dengan SMAW. Biaya kawat las dan shielding gas bisa menjadi lebih mahal dibandingkan dengan elektroda terbungkus, tetapi hal ini bisa diimbangi karena produktivitas yang tinggi dan sedikitnya pemborosan.
Shielding gas pada pengelasan GMAW dapat terganggu karena pengaruh tiupan angin, sehingga harus diambil tindakan pencegahan apabila kecepatan angin lebih dari 5 mph. Pelindung angin atau tirai khusus dapat dipakai untuk menahan atau mengurangi tiupan angina, sehingga kecepatannya cukup rendah untuk menjaga shielding gas secara memadai. Memperbesar aliran gas untuk mengimbangi pengaruh tiupan angin yang berlebihan, akan menimbulkan masalah lain yang lebih buruk, karena akan timbul turbulensi disekitar busur yang akan menarik udara disekitarnya.
GMAW memerlukan ruang gerak yang lebih besar terhadap benda kerja karena pengaruh ukuran welding gun dan nozzle. Pada umumnya alat pengumpan kawat harus ditempatkan sedekat mungkin dengan benda kerja. Short-circuiting welding dapat dipakai untuk mengelas root pass dengan cara butt weld atau sambungan bercabang tetapi harus dikontrol ketat saat melakukan fill pass, karena ada resiko non-fusion atau cold lap. Ketika melakukan fill pass pada pengelasan pipa dengan cara butt weld, pengelasan hanya dilakukan dengan cara las naik yaitu antara posisi jam 10 dan jam 2, dimana pipa bisa ditahan tetap oleh kuda-kuda penyangga (posisi 5G) atau diputar (1G). Proses pengelasan ini tidak cocok dikerjakan pada fillet weld apabila tebal logam lebih dari 1/4 inch, dan pada umumnya tidak digunakan untuk fabrikasi pressure vessel, tangki atau palang-palang struktur. Lack of fusion yang terletak diantara lapisan-lapisan las sukar dideteksi dengan radiography dan karena pengaruh kontrol yang buruk dari proses hubungan singkat ini, masalah LOF menjadi cukup berat, sehingga membuat beberapa fabrikator meninggalkan proses pengelasan ini. Dibandingkan dengan proses las SMAW, pengelasan short-circuiting butuh kebersihan, dan kelurusan sambungan serta penggerindaan tack weld yang lebih baik guna mendapatkan hasil pengelasan root pass bermutu tinggi.
LOF tidak akan menjadi masalah jika panas masukan dibuat lebih tinggi pada GMAW spray transfer atau globular transfer. Pada GMAW spray transfer, terdapat radiasi busur yang banyak. Hal ini tidak menyenangkan bagi juru las dan membuat proses ini lebih cocok untuk las otomatis pada beberapa aplikasi. Pengelasan GMAW spray transfer terbatas pada pengelasan posisi datar dan horizontal saja karena kawah las lebih besar.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTM0l4wt7mfFzwjUGLzyeooGKYNDVYNzIYyY8NS11fcONJkYAkb1nHkebAwqJPB122DWhyyOITUZKGyIvVBng0zMglcq5ukeeuL_lb0zp2372BWalH5c0998MZin0A-qbk3e64zt2py3TS/s320/untitledK.JPG
Gamabar 1. Proses Pengelasan MIG/GMAW
Description: http://3.bp.blogspot.com/-fIcT6aOp2RI/T9L84nqiHWI/AAAAAAAAAU4/zFsjnab2EiQ/s320/jass.png
Gamabar 2. Bagian Busur Las

C.    RETAK PADA DAERAH LAS DAN CARA PENANGGULANGAN
Retak pada daerah Las
Retak las dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu retak dingin dan retak panas. Retak dingin adalah retak yang didaerah las pada suhu dibawah suhu transformasi martensit yang tingginya kira kira 300 C, retak Panas adalah retak terjadi pada suhu diatas 550 C.
Retak dingin dapat terjadi tidak hanya terjadi pada daerah HAZ tetapi juga pada logam las. Retak dingin utama pada daerah ini adalah retak bawah manic las, retak akar dan retak kaki, sedangkan retak dingin pada logam las biasanya adalah retak memanjang dan retak melintang
Retak panas dibagi dalam dua kelas yaitu retak karena pembebanan tegangan pada daerah pengaruh panas yang tejadi pada suhu ntara 550 C-700 C dan retak yang terjadi pada suhu diatas 900 C yang terjadi pada peristiwa pembekuan logam las.
Penyebab retak las dan cara menaggulanginya
1) Retak dingin dibawah pengaruh panas (HAZ)
Retak dingin dibawah pengaruh panas atau HAZ biasanya terjadi antara beberapa menit sampai 48 jam sesudah pengelasan. Karena itu retak ini disebut juga retak lambat
Retak dingin disebabakan oleh tiga hal:
Ø Struktur dari daerah pengaruh panas
Ø Hidrogen difusi didaerah las
Ø Tegangan
a) Struktur daerah pengaruh panas (HAZ) Struktur dari daerah pengaruh panas ditentukan oleh komposisi kimia dari logam induk dan kecepatan pendinginan dari daerah las
b) Hidrogen difusi dalam daerah las: Retak las juga dipengaruhi oleh adanya difusi dari logam las kedalam daerah pengaruh panas pada waktu logam las masih cair logam ini menyerap hidrogen dengan jumlah besar dan dilepaskan dengan cara difusi pada suhu rendah.
c) Tegangan: Tegangan yang dapat mempengaruhi terjadinya retak las adalah tegangan sisa dan tegangan termal. Tegangan sisa banyak sekali tergantung pada rancangan las, proses pegelasan yang digunakan dan pengawasanya.
d) Cara menghindari retak las: Sebab utama dari retak las adalah terbentuknya struktur martensit pada daerah HAZ, terjadinya hidrogen difusi pada logam las dan besarnya tegangan yang bekerja pada daerah las.
Usah usaha penaggulangan retak las dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Sejauh mungkin menggunakan baja dengan harga C dan P rendah, sehingga terbentuknya struktur martensit pda daerah HAZ dapat dihindari
2. Sedapat mungkin menggunakan elektroda dengan fluks yang mempunyai kada hidrogen rendah
3. Menghilangkan kristal air yang terkandung dalam fluks basa yang sering digunakan dalam las busur rendam
4. Elektroda elektroda yang akan digunakan harus dipanggang lebih dahulu dan penyimpananya harus sedemikian rupa sehingga elektroda yang sudah dipanggang tersebut tidak menyerap uap air
5. Sebelum mengelas, pada daerah sekitar kampuh harus diersihkan dari air, karat, debu, minyak dan zat organik yang dapat menjadi sumber hidrogen.
6. Penggunaan CO2, sebagai gas pelindung akan sangat mengurangi terjadinya difusi hydrogen
7. Untuk melepaskan kadar hydrogen difusi dapat digunakan las dengan masukan panas tinggi, atau dilakukan pemanasan mula dan penahanan suhu lapisan las yang dapat memperlambat pendinginan
8. Penurunan kadar hydrogen difusi dapat juga dilakukan dengan perlakuan panas
9. Menghindari pengelasan pada waktu hujan atau ditempat dimana daerah las dapat kebasahan
10. Tegangan yang terjadi pada daerah las harus diusahakan serendah mungkin dengan pemilihan dan pengawasan rancangan dan cara pengelasanya yang tepat.
2) Retak lamel
Pada kontruksi kerangka yang besar seperti bangunan laut, biasanya digunakan pelat tebal sehingga pada daerah las terjadi tegangan yang besar pula. Karena tegangan ini kadang kadang terjadi berumpak yang menjalar sepanjang butiran bukan yang ada didalam baja.
3) Retak lintang pada log alas
Retak ini biasanya terjadi dengan arah tegak lurus atau melintang terhadap garis las terjadinya karena adanya hidrogen difusi yang keluar dari fluks atau pembungkus elektroda
4) Retak pada daerah las karena proses pembebasan tegangan
Retak yang terjadi karena perlakuan perlakuan panas sesudah pengelasan adalah retak karena poses anil pembebasan tegangan
5) Retak panas
Retak panas biasanya terjadi pada waktu logam las mendingin setelah pembeluan selesai. Retak ini terjadi karena adanya tegangan yang timbul yang disebabkan oleh penyusutan dan sifat baja yang ketangguhanya turun pada suhu sedikit dibawah suhu pembekuan.
D.    ARUS LISTRIK
TIG/GTAW.
      Mesin las AC/DC merupakan mesin las pembangkit arus AC/DC yang digunakan di dalam pengelasan las gas tungsten. Pemilihan arus AC atau DC biasanya tergantung pada jenis logam yang akan dilas.
MIG/GMAW.

Proses pengelasan GMAW menggunakan arus searah (DC) dengan posisi elektroda pada kutub positif, hal ini sering disebut sebagai polaritas terbalik. Polaritas searah jarang digunakan dalam proses pengelasan dikarenakan dalam proses ini transfer logam tidak terjadi secara sempurna.