TEKNIK MANUFAKTUR 3
LAPORAN PERSENTASI
Oleh :
Gerson Kermite 21131010
Jeni Andria 2113101045
Bangun Setyo. N 21131010
JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
BANDUNG
PENDAHULUAN
A.
Las Listrik TIG
Pengelasan
ini pertama kali ditemukan di USA (1940), berawal dari pengelasan paduan untuk
bodi pesawat terbang.
Prinsip
: Panas dari busur terjadi diantara elektrode tungsten dan logam induk akan
meleburkan logam pengisi ke logam induk di mana busurnya dilindungi oleh gas
mulia (Ar atau He).
Las
listrik TIG (Tungsten Inert Gas = Tungsten Gas Mulia) menggunakan elektroda
wolfram yang bukan merupakan bahan tambah. Busur listrik yang terjadi antara
ujung elektroda wolfram dan bahan dasar merupakan sumber panas, untuk pengelasan.
Titik cair elektroda wolfram sedemikian tingginya sampai 3410° C, sehingga
tidak ikut mencair pada saat terjadi busur listrik. Tangkai listrik dilengkapi
dengan nosel keramik untuk penyembur gas pelindung yang melindungi daerah las dari
luar pada saat pengelasan. Sebagian bahan tambah dipakai elektroda tampa
selaput yang digerakkan dan didekatkan ke busur yang terjadi antara elektroda
wolfram dengan bahan dasar. Sebagi gas pelindung dipakai gas inert seperti
argon, helium atau campuran dari kedua gas tersebut yang pemakainnya tergantung
dari jenis logam yang akan dilas.
·
Tangkai las TIG biasanya didinginkan dengn
air yang bersirkulasi.
Pembakar
las TIG terdiri dari :
1)
Penyedia arus
2)
Pengembali air pendingi,
3)
Penyedia air pendingin,
4)
Penyedia gas argon,
5)
Lubang gas argon ke luar,
6)
Pencekam elektroda,
7)
Moncong keramik atau logam,
8)
Elektroda tungsten,
9)
Semburan gas pelindung.
Keuntungan
: Digunakan untuk Alloy Steel, Stainless Steel maupun paduan Non Ferrous: Ni,
Cu, Al (Air Craft). Disamping itu mutu las bermutu tinggi, hasil las padat,
bebas dari porositas dan dapat untuk mengelas berbagai posisi dan ketebalan.
Keuntungan
Keuntungan
Proses
GTAW menghasilkan pengelasan bermutu tinggi pada bahan-bahan ferrous dan non
ferrous. Dengan teknik pengelasan yang tepat, semua pengotor yang berasal dari
atmosfir dapat dihilangkan. Keuntungan utama dari proses ini yaitu, bisa
digunakan untuk membuat root pass bermutu tinggi dari arah satu sisi pada
berbagai jenis bahan. Oleh karena itu GTAW digunakan secara luas pada
pengelasan pipa, dengan batasan arus mulai dari 5 hingga 300 amp, menghasilkan
kemampuan lebih besar untuk mengatasi masalah pada posisi sambungan yang
berubah-ubah seperti celah akar. Sebagai contoh, pada pipa tipis (dibawah 0,20
inci) dan logam-logam lembaran, arus bisa diatur cukup rendah sehingga
pengendalian penetrasi dan pencegahan terjadinya terbakar tembus (burnt
through) lebih mudah dari pada pengerjaan dengan proses menggunakan elektroda
terbungkus. Kecepatan gerak yang lebih rendah dibandingkan dengan SMAW akan
memudahkan pengamatan sehingga lebih mudah dalam mengendalikan logam las selama
pengisian dan penyatuan.
Kelemahan.
Kelemahan
utama proses las GTAW yaitu laju pengisian lebih rendah dibandingkan dengan
proses las lain umpamanya SMAW. Disamping itu, GTAW butuh kontrol kelurusan
sambungan yang lebih ketat, untuk menghasilkan pengelasan bermutu tinggi pada
pengelasan dari arah satu sisi. GTAW juga butuh kebersihan sambungan yang lebih
baik untuk menghilangkan minyak, grease, karat,dan kotoran-kotoran lain agar
terhindar dari porosity dan cacat-cacat las lain.
GTAW
harus dilindungi secara berhati-hati dari kecepatan udara di atas 5 mph untuk
mempertahankan perlindungan inert gas di atas kawah las.
B.
Las Listrik MIG/GMAW
GMAW
(gas metal arc welding) mulai dikenalkan di dunia industry pada tahun 1940-an.
Di awal tahun 1950 yang diperkarsai oleh Lyubavshkii and Novoshilov, melakukan
pengembangan GMAW dengan menggunakan diameter elektroda yang lebih besar dan
gas pelindung yang digunakan adalah karbon dioksida CO2. Pengembangan ini menghasilkan percikan
elektroda yang tinggi,dan panas pada benda kerja yang sedang. Di akhir tahun1950
terjadi perkembangan dibidang teknologi power source, dan perkembangan diameter
elektroda yang digunakan semakin kecil 0.035" - 0.062" (0.9 - 1.6
mm). Perkembangannya dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan, dengan kemajuan teknologi saat ini GMAW dapat
diaplikasikan pada Proses Pengelasan dengan Sistem Otomasi (robot).
GMAW (Gas Metal Arc Welding) merupakan proses
penyambungan dua buah logam atau lebih yang sejenis dengan menggunakan bahan
tambah yang berupa kawat gulungan dan gas pelindung melalui proses pencairan.
Gas pelindung dalam proses pengelasan ini berfungsi sebagai pelindung dari
proses oksidasi, yaitu pengaruh udara luar yang dapat mempengaruhi kualitas
las. Gas yang digunakan dalam proses pengelasan ini dapat menggunakan gas
argon, helium, argon+helium dsb. Penggunaan gas juga dapat mempengaruhi
kualitas la itu sendiri.
Keuntungan
Proses
pengelasan GMAW dapat dikerjakan secara semi-otomatis atau otomatis. Asap dan
percikan las pada GMAW hubungan singkat lebih sedikit dibandingkan dengan SMAW,
juga tidak ada slag yang harus dibersihkan setelah pengelasan selesai.
Kecepatan pengelasan dan laju pengisian sama atau bisa lebih besar dari pada
SMAW. Larutan logam las umumnya lebih rendah karena penetrasi GMAW lebih
dangkal. Dengan panas masukan rendah dan penetrasi yang dangkal, logam-logam
tipis lebih mudah disambung dan sambungan yang memiliki celah root lebih lebar
akan lebih mudah dilas. Pada fabrikasi pipa-pipa di bengkel, root pass bermutu
tinggi dapat dikerjakan lebih cepat pada berbagai posisi dan pada umumnya
dengan biaya lebih rendah.
GMAW
spray transfer dan globular transfer mempunyai kawah las yang lebih mudah
dilihat, sama halnya dengan las busur teknik hubungan singkat (short circuiting
arc) tetapi tanpa slag. Karena tidak ada flux dan relatif sedikit jumlah
deoxidizer yang diberikan pada kawat, lebih sedikit pekerjaan membersihkan yang
diperlukan setelah pengelasan selesai. Keseragaman panjang busur dipertahankan
dengan cara membuat sumber listrik memiliki tegangan konstan. Proses las GMAW
mempunyai laju pengisian lebih besar pada pengelasan paduan-paduan ferrous dan
non-ferrous. Proses ini cocok dipergunakan pada las kampuh dan pengelasan untuk
membuat lapisan anti karat pada stainless steel, nickel based alloys dan
paduan-paduan tembaga seperti aluminum bronze.
Kelemahan.
Kelemahan.
Peralatan
las GMAW lebih mahal, dan lebih rumit dalam pemasangan dan perawatan,
dibandingkan dengan SMAW. Biaya kawat las dan shielding gas bisa menjadi lebih
mahal dibandingkan dengan elektroda terbungkus, tetapi hal ini bisa diimbangi
karena produktivitas yang tinggi dan sedikitnya pemborosan.
Shielding
gas pada pengelasan GMAW dapat terganggu karena pengaruh tiupan angin, sehingga
harus diambil tindakan pencegahan apabila kecepatan angin lebih dari 5 mph.
Pelindung angin atau tirai khusus dapat dipakai untuk menahan atau mengurangi
tiupan angina, sehingga kecepatannya cukup rendah untuk menjaga shielding gas
secara memadai. Memperbesar aliran gas untuk mengimbangi pengaruh tiupan angin
yang berlebihan, akan menimbulkan masalah lain yang lebih buruk, karena akan
timbul turbulensi disekitar busur yang akan menarik udara disekitarnya.
GMAW
memerlukan ruang gerak yang lebih besar terhadap benda kerja karena pengaruh
ukuran welding gun dan nozzle. Pada umumnya alat pengumpan kawat harus
ditempatkan sedekat mungkin dengan benda kerja. Short-circuiting welding dapat
dipakai untuk mengelas root pass dengan cara butt weld atau sambungan bercabang
tetapi harus dikontrol ketat saat melakukan fill pass, karena ada resiko non-fusion
atau cold lap. Ketika melakukan fill pass pada pengelasan pipa dengan cara butt
weld, pengelasan hanya dilakukan dengan cara las naik yaitu antara posisi jam
10 dan jam 2, dimana pipa bisa ditahan tetap oleh kuda-kuda penyangga (posisi
5G) atau diputar (1G). Proses pengelasan ini tidak cocok dikerjakan pada fillet
weld apabila tebal logam lebih dari 1/4 inch, dan pada umumnya tidak digunakan
untuk fabrikasi pressure vessel, tangki atau palang-palang struktur. Lack of
fusion yang terletak diantara lapisan-lapisan las sukar dideteksi dengan
radiography dan karena pengaruh kontrol yang buruk dari proses hubungan singkat
ini, masalah LOF menjadi cukup berat, sehingga membuat beberapa fabrikator
meninggalkan proses pengelasan ini. Dibandingkan dengan proses las SMAW,
pengelasan short-circuiting butuh kebersihan, dan kelurusan sambungan serta
penggerindaan tack weld yang lebih baik guna mendapatkan hasil pengelasan root
pass bermutu tinggi.
LOF
tidak akan menjadi masalah jika panas masukan dibuat lebih tinggi pada GMAW
spray transfer atau globular transfer. Pada GMAW spray transfer, terdapat
radiasi busur yang banyak. Hal ini tidak menyenangkan bagi juru las dan membuat
proses ini lebih cocok untuk las otomatis pada beberapa aplikasi. Pengelasan
GMAW spray transfer terbatas pada pengelasan posisi datar dan horizontal saja
karena kawah las lebih besar.

Gamabar 1. Proses Pengelasan MIG/GMAW

Gamabar
2. Bagian Busur Las
C.
RETAK
PADA DAERAH LAS DAN CARA PENANGGULANGAN
Retak
pada daerah Las
Retak
las dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu retak dingin dan retak panas. Retak
dingin adalah retak yang didaerah las pada suhu dibawah suhu transformasi
martensit yang tingginya kira kira 300 C, retak Panas adalah retak terjadi pada
suhu diatas 550 C.
Retak
dingin dapat terjadi tidak hanya terjadi pada daerah HAZ tetapi juga pada logam
las. Retak dingin utama pada daerah ini adalah retak bawah manic las, retak
akar dan retak kaki, sedangkan retak dingin pada logam las biasanya adalah
retak memanjang dan retak melintang
Retak
panas dibagi dalam dua kelas yaitu retak karena pembebanan tegangan pada daerah
pengaruh panas yang tejadi pada suhu ntara 550 C-700 C dan retak yang terjadi
pada suhu diatas 900 C yang terjadi pada peristiwa pembekuan logam las.
Penyebab
retak las dan cara menaggulanginya
1)
Retak dingin dibawah pengaruh panas (HAZ)
Retak
dingin dibawah pengaruh panas atau HAZ biasanya terjadi antara beberapa menit
sampai 48 jam sesudah pengelasan. Karena itu retak ini disebut juga retak
lambat
Retak
dingin disebabakan oleh tiga hal:
Ø
Struktur dari daerah pengaruh panas
Ø
Hidrogen difusi didaerah las
Ø
Tegangan
a)
Struktur daerah pengaruh panas (HAZ) Struktur dari daerah pengaruh panas
ditentukan oleh komposisi kimia dari logam induk dan kecepatan pendinginan dari
daerah las
b)
Hidrogen difusi dalam daerah las: Retak las juga dipengaruhi oleh adanya difusi
dari logam las kedalam daerah pengaruh panas pada waktu logam las masih cair
logam ini menyerap hidrogen dengan jumlah besar dan dilepaskan dengan cara
difusi pada suhu rendah.
c)
Tegangan: Tegangan yang dapat mempengaruhi terjadinya retak las adalah tegangan
sisa dan tegangan termal. Tegangan sisa banyak sekali tergantung pada rancangan
las, proses pegelasan yang digunakan dan pengawasanya.
d)
Cara menghindari retak las: Sebab utama dari retak las adalah terbentuknya
struktur martensit pada daerah HAZ, terjadinya hidrogen difusi pada logam las
dan besarnya tegangan yang bekerja pada daerah las.
Usah
usaha penaggulangan retak las dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Sejauh mungkin menggunakan baja dengan harga C dan P rendah, sehingga
terbentuknya struktur martensit pda daerah HAZ dapat dihindari
2.
Sedapat mungkin menggunakan elektroda dengan fluks yang mempunyai kada hidrogen
rendah
3.
Menghilangkan kristal air yang terkandung dalam fluks basa yang sering
digunakan dalam las busur rendam
4.
Elektroda elektroda yang akan digunakan harus dipanggang lebih dahulu dan
penyimpananya harus sedemikian rupa sehingga elektroda yang sudah dipanggang
tersebut tidak menyerap uap air
5.
Sebelum mengelas, pada daerah sekitar kampuh harus diersihkan dari air, karat,
debu, minyak dan zat organik yang dapat menjadi sumber hidrogen.
6.
Penggunaan CO2, sebagai gas pelindung akan sangat mengurangi terjadinya difusi
hydrogen
7.
Untuk melepaskan kadar hydrogen difusi dapat digunakan las dengan masukan panas
tinggi, atau dilakukan pemanasan mula dan penahanan suhu lapisan las yang dapat
memperlambat pendinginan
8.
Penurunan kadar hydrogen difusi dapat juga dilakukan dengan perlakuan panas
9.
Menghindari pengelasan pada waktu hujan atau ditempat dimana daerah las dapat
kebasahan
10.
Tegangan yang terjadi pada daerah las harus diusahakan serendah mungkin dengan
pemilihan dan pengawasan rancangan dan cara pengelasanya yang tepat.
2)
Retak lamel
Pada
kontruksi kerangka yang besar seperti bangunan laut, biasanya digunakan pelat
tebal sehingga pada daerah las terjadi tegangan yang besar pula. Karena
tegangan ini kadang kadang terjadi berumpak yang menjalar sepanjang butiran
bukan yang ada didalam baja.
3)
Retak lintang pada log alas
Retak
ini biasanya terjadi dengan arah tegak lurus atau melintang terhadap garis las
terjadinya karena adanya hidrogen difusi yang keluar dari fluks atau pembungkus
elektroda
4)
Retak pada daerah las karena proses pembebasan tegangan
Retak
yang terjadi karena perlakuan perlakuan panas sesudah pengelasan adalah retak
karena poses anil pembebasan tegangan
5)
Retak panas
Retak
panas biasanya terjadi pada waktu logam las mendingin setelah pembeluan
selesai. Retak ini terjadi karena adanya tegangan yang timbul yang disebabkan
oleh penyusutan dan sifat baja yang ketangguhanya turun pada suhu sedikit
dibawah suhu pembekuan.
D.
ARUS
LISTRIK
TIG/GTAW.
Mesin las AC/DC merupakan mesin las
pembangkit arus AC/DC yang digunakan di dalam pengelasan las gas tungsten.
Pemilihan arus AC atau DC biasanya tergantung pada jenis logam yang akan dilas.
MIG/GMAW.
Proses pengelasan GMAW menggunakan arus
searah (DC) dengan posisi elektroda pada kutub positif, hal ini sering disebut
sebagai polaritas terbalik. Polaritas searah jarang digunakan dalam proses
pengelasan dikarenakan dalam proses ini transfer logam tidak terjadi secara
sempurna.

No comments:
Post a Comment